Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inflasi. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Februari 2011

Emas Sebagai Sarana Investasi

Pada umumnya orang memilih berinvestasi dalam bentuk emas untuk memperoleh keuntungan dalam jangka panjang. Hal ini disebabkan pertambahan nilai dari emas dinilai tidak terlalu besar dalam jangka pendek dibandingkan dengan investasi di bursa saham misalnya.
Tapi ada periode-periode tertentu dimana investasi emas dalam jangka pendek menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan investasi di bursa saham dan deposito atau obligasi. Sebagai contoh, dari awal September hingga pertengahan Oktober 2009, harga emas telah naik lebih dari 10%. Nilai ini jauh lebih tinggi dari keuntungan yang bisa diperoleh dari deposito misalnya. Mengingat pada saat yang sama, suku bunga SBI dipatok hanya sebesar 6,5% per tahun. Jadi keuntungan dari investasi emas dalam satu bulan pada periode tersebut masih lebih tinggi daripada keuntungan yang bisa didapat dari deposito selama satu tahun. 
Walau demikian, kita mesti menyadari bahwa harga emas pun tidak selamanya naik. Ada masa-masa tertentu pula dimana harga emas mengalami penurunan yang cukup signifikan. Berikut ini grafik perubahan harga emas selama sepuluh tahun terakhir. 

Dari grafik diatas kita bisa melihat bahwa walaupun harga emas bisa naik dan turun, tetapi dalam jangka panjang selalu memiliki kecenderungan untuk meningkat. Harga emas saat ini telah mengalami kenaikan lebih dari 300% dibandingkan dengan 10 tahun yang lalu. Kalau kita rata-ratakan, berarti harga emas telah mengalami kenaikan lebih dari 30% tiap tahun.
Nilai kenaikan ini jelas lebih tinggi dari tingkat rata-rata inflasi di Indonesia pada periode yang sama. Jadi jelas lah bahwa emas memang terbukti bisa menjadi sarana yang baik bukan hanya untuk menghindari inflasi, tetapi juga menjadi sarana investasi yang menguntungkan.
Berikut ini beberapa keuntungan dari memilih emas sebagai sarana investasi:
1. Tidak Ada Resiko Dalam Emas.
Ketika Anda memegang Emas, Anda memegang Asset riil yang tidak tergantung pada orang lain. Asset riil dalam genggaman Anda ini menjadi semakin penting pada saat krisis keuangan melanda. Tanyakan pada orang yang menaruh uang di Lehman Brothers (Amerika) misalnya. Juga pada orang yang mengalami krisis finansial yang serius di negaranya, maka Anda akan tahu betapa pentingnya Tangible Asset berupa Emas ini.
2. Konsistensi Daya Beli.
Katakanlah harga Emas turun dari Rp. 400.000/gram menjadi Rp. 200.000/gram, pastilah harga komiditi yang lain seperti gandum, minyak, dsb juga ikut turun. Statistik berabad-abad (dalam Islam sudah terbukti lebih dari 14 abad) menunjukkan adanya korelasi yang nyata antara harga Emas dengan harga komoditi-komoditi yang dibutuhkan manusia.
Jadi seandainya harga Emas turun, Anda juga tidak mengalami penurunan dalam kekayaan Anda, karena Anda akan tetap dapat membeli barang-barang sama banyaknya seperti ketika harga Emas sebelum turun. Makanya Emas disebut ZERO INFLATION.
3. Tidak Tergantung Pada Keputusan Pemerintah.
Beda dengan Uang Kertas yang nilainya bergantung pada keputusan pemerintah dan birokrat masing-masing negara, Emas nilainya sama sekali tidak bergantung mereka. Dengan memegang emas, Anda tidak perlu mencemaskan keputusan Pemerintah Anda tentang suku bunga dan sejenisnya.
4. Asset Yang Berada Di Luar Sistem Perbankan.
Dengan Emas Anda berkesempatan untuk memiliki aset yang di luar pengaruh sistem perbankan sama sekali. Kita tahu bahwa perbankan di seluruh dunia tanpa terkecuali negara maju sekalipun selalu dihantui krisis dari waktu ke waktu. Dengan Emas Anda akan terbebas dari pusaran krisis perbankan yang bisa muncul kapan saja dan di mana saja.
Keuntungan lainnya berinvestasi emas:
1. Perlindungan Nilai Asset
Bila Inflasi tinggi, harga Emas akan naik lebih tinggi. Semakin tinggi Inflasi, semakin tinggi kenaikan harga Emas. Jika kurs Dollar naik, harga Emas juga akan naik.
2. Sarana Menabung Paling Efektif Untuk Tujuan Tertentu.
Karena harga Emas berkembang menurut kenaikan Inflasi, maka Emas aman dipakai sebagai sarana menabung untuk keperluan Naik Haji, Pernikahan, Uang Muka Rumah maupun Pendidikan Anak.
3. Emas gampang diperoleh dan sangat liquid 
Emas mudah untuk dibeli dan dijual kembali dimana saja. Harga emas di seluruh indonesia juga relatif sama. Kita bisa membeli emas di Jakarta dan dijual kembali di Makasar dengan harga yang sama.

Sumber:

Emas dan Inflasi

Emas sering disebut dengan istilah “Barometer of fear”. Pada saat orang-orang cemas dengan situasi perekonomian, mereka cenderung untuk membeli emas untuk melindungi nilai kekayaan mereka. Dua macam situasi ekonomi yang sering membuat orang cemas adalah inflasi dan deflasi. Emas telah terbukti sebagai sarana penyimpanan kekayaan yang tahan baik terhadap inflasi maupun deflasi.
Banyak orang percaya emas adalah produk investasi yang bisa menangkal inflasi. Dan memang, sejarah membuktikan emas akan diborong orang apabila terjadi kepanikan yang bisa membahayakan ekonomi negara, seperti inflasi tinggi, krisis keuangan, atau perang.
Inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum. Inflasi bisa menggerogoti uang Anda. Kalau asumsi inflasi 15 persen/tahun, maka harga barang & jasa yang sekarang bernilai Rp 5 juta, akan menjadi Rp 10,06 juta atau dua kali lipat pada tahun ke6, dan Rp 15,3 juta atau tiga kali lipat pada tahun ke9, dan seterusnya.
Menurut pemerintah, inflasi adalah kenaikan harga-harga secara bersamaan. Sedangkan menurut kenyataan, yang benar: Inflasi adalah laju pertumbuhan uang yang beredar di dalam ekonomi. Bank sentral/otoritas keuangan mencetak uang sehingga jumlahnya di dalam ekonomi meningkat, akibatnya nilai uang turun dan harga-harga naik. Jadi inflasi adalah perbuatan manusia yang disengaja berkaitan dengan jumlah uang yang beredar, bukan gejala ekonomi akibat permintaan dan penawaran barang/jasa.
Dengan mitos inflasi (bahwa inflasi = kenaikan harga-harga) berarti penguasa bisa menyalahkan para pelaku ekonomi terutama pedagang. Tuduhan bisa dilontarkan bahwa karena ulah pedagang menimbun barang menyebabkan harga naik seperti yang dilakukan beberapa waktu ini terhadap produsen minyak sawit dan penyalur beras. Kemudian dibarengi dengan operasi pasar membuat image penguasa naik. Menjelekkan pedagang dan mendongkrak citra diri sendiri. Hal ini mudah dicerna dan didukung rakyat.
Contoh riilnya, misalnya seorang tukang becak yang di tahun 1980 mangkal di dekat Senayan. Dia memberi jasa mengantar penumpang sejauh kurang lebih 4 km ke Blok M. Sebagai imbalannya dia diberi uang sebesar Rp 300. Artinya Rp 300 mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak. Uang ini disimpannya di lemari sampai tahun 2010. Pada saat ini dia sudah tua, dia mau naik becak dengan jarak yang sama. Kalau Rp 300 itu mewakili jasa mengantar sejauh 4 km dengan becak maka kapan saja dia gunakan tanda/alat pembayaran yang syah tentu dia akan memperoleh jasa yang sama.
Nyatanya tidak demikian. Di tahun 2010 diperlukan Rp 10.000 sampai Rp 150.00 untuk jasa yang sama. Artinya nilai riil tabungan si tukang becak ini sudah termakan oleh inflasi (baca: pajak tabungan dan pajak ekonomi bawah tanah) walaupun secara sadar si tukang becak tidak pernah merasa membayar pajak.
Salah satu bukti nyata ketahanan emas terhadap inflasi dapat kita lihat dari contoh berikut: Pada jaman Rasulullah Muhammad SAW, sekitar 1400 tahun yang lalu, harga satu ekor kambing adalah seharga satu dinar. Satu dinar adalah sepotong emas dengan kadar 22 karat dan mempunyai berat sebesar 4.25 gram. Saat ini, seekor kambing dengan kualitas yang sama masih mempunyai harga yang ekivalen dengan satu dinar.
Dapat kita lihat bahwa nilai emas sama sekali tidak terpengaruh oleh perubahan situasi ekonomi selama lebih dari 14 abad. Bandingkan dengan harga kambing kalau dihitung dalam rupiah. Sepuluh tahun lalu, uang sebesar 300 ribu rupiah bisa membeli seekor kambing yang bagus. Tapi sekarang, kambing yang bagus harus dibeli dengan uang lebih dari satu juta rupiah.
Tulisan ini akan membahas tentang apa yang bisa Anda lakukan agar bisa menghadapi inflasi. Bila Anda bukan termasuk pengambil keputusan di pemerintahan, Anda mungkin tidak bisa ikut menurunkan tingkat inflasi. Yang bisa Anda lakukan sebagai individu, hanyalah bagaimana agar Anda bisa mengambil “keuntungan” dari terjadinya inflasi tersebut. Bagaimana caranya? Saya menyarankan agar Anda melakukan investasi pada instrumen yang akan naik pesat apabila terjadi inflasi tinggi. Apa itu? Emas. 
Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi kenaikan harga emas. Statistik menunjukkan bahwa bila inflasi mencapai 10 persen, maka emas akan naik 13 persen. Bila inflasi 20 persen, maka emas akan naik 30 persen. Tetapi bila inflasi 100 persen, maka emas Anda akan naik 200 persen. Inilah kenapa Anda sebaiknya mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam bentuk emas. Ini karena emas dipercaya sebagai investasi penangkal inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin baik kenaikan nilai emas yang Anda miliki. Tetapi, patut dicatat bahwa harga emas akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah, bahkan cenderung sedikit menurun apabila laju inflasi di bawah dua digit. Jadi, emas hanya akan bagus bila terjadi inflasi moderat (dua digit), dan akan lebih bagus lagi bila terjadi inflasi hiper (tiga digit).

Sumber:
http://www.bi.go.id/biweb/TimeSeries/tsInflasi_ID.aspx?sdate=2002/12&edate=2010/12 
http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&daftar=1&id_subyek=03&notab=1
http://www.ekonomiorangwarasdaninvestasi.blogspot.com
http://bisnis-real.com/free-download/pedoman_investasi_emas.pdf